Langsung ke konten utama

Postingan

Sebuah Cinta Sederhana

Apakah hal yang paling ingin kau lakukan bersama seseorang yang kau cintai? Bepergian? Mengunjungi tempat-tempat indah bersama? Atau yang lebih sederhana candle light dinner di tepi pantai? Atau menikmati kembang api malam tahun baru? Atau hanya sekadar menatap bintang-bintang pada malam biasa? Kalau aku tidak pernah melakukan semua itu dengan Zac. Bahkan jika suatu saat ingin pun aku masih bisa menahannya. Lagipula hingga kini aku tidak menginginkannya, begitu pun Zac. Cukup dengan kebersamaan kami bahagia. Tapi ada satu hal teramat sederhana yang sungguh ingin kulakukan. Hal yang satu ini hampir sama tidak mungkinnya menjadi kenyataan dengan semua hal yang telah kusebutkan sebelumnya. Ya. Aku hanya ingin membalas tatapan matanya ketika menyambutku di awal hari. Selama ini aku hanya bisa membayangkan betapa indahnya mata Zac. Ia pernah mengatakan bahwa dirinya tak pernah bosan memperhatikanku. Itu berarti sepanjang waktu kebersamaan kami hampir seluruhnya tatapan mata Zac adalah m...

Jika

Jika ada kehidupan selanjutnya, apa yang akan kau pertahankan? Pertanyaan itu tiba-tiba terlintas di pikiranku. Hah! Mengapa juga harus muncul pertanyaan seperti itu. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang mau memikirkan kehidupan ke depan yang bahkan belum diketahui oleh siapa pun kecuali Tuhan. Untuk apa memikirkannya jika hidup yang sedang kujalani saja berantakan? Bagiku hidup setiap orang itu sudah dituliskan Yang Kuasa. Manusia tinggal menjalani saja, dengan apa yang diusahakan dan dimiliki. Ah, memangnya apa yang masih kumiliki sekarang? Memiliki tak semudah itu. Saat kita memiliki, maka kita juga harus menjaga karena setiap pemilik sejati sampai kapan pun tak akan siap kehilangan. Anehnya, manusia selalu berambisi dengan kepemilikan. Sampai mereka tak menyadari bahwa sebenarnya tak ada yang bisa dimiliki tanpa adanya takdir. Dan kini takdir itu sedang berperan dalam sepenggal perjalananku. Pertanyaan besar itu masih saja memenuhi kepalaku. Dan sialnya aku mulai berpikir untu...

Sepenggal Perjalanan

         Perjalanan kali ini menyajikan satu momen yang berbeda. Entah mengapa orang-orang yang kutemui terkesan ramah hampir seperti keluarga. Mereka dan aku seolah sudah mengenal selama bertahun-tahun. Aku pernah dengar sebuah kalimat bagus: “Merantaulah dan kau kan temukan saudara.”           Mungkin sepenggal kalimat itu memang selalu mewakili kenyataan pada orang-orang yang pernah bepergian. Mungkin petualang, mungkin perantau yang mencari penghidupan ataupun ilmu. Hal seperti ini yang pasti mengingatkanku bahwa hidup tidak pernah sendiri. Pada setiap momen sepi pasti ada, meski siapa pun itu, bersamamu di sana. Mungkin hanya sekedar melihat, tersenyum, atau bahkan berbagi apa saja. Mungkin itu orang-orang baru atau seseorang yang telah sangat dekat di hati kita. Hidup itu indah kawan!           Yeah. Jika kita masih berfikir bahwa, “aku memang ditakdirkan untuk...

Pementasan Tunggal Teater Universitas Indonesia

                 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater UI yang selalu ditunggu-tunggu penampilannya oleh penikmat teater dari berbagai kalangan, pada bulan Mei 2014 mendatang akan menggelar sebuah pementasan tunggal berjudul “Nyonya Zachanassian Pulang”. Pementasan ini akan dilaksanakan dua kali dalam satu hari yaitu pukul 14.00-16.00 dan 20.00-22.00. Sebelum menyaksikannya di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki 4 Mei mendatang silakan simak dahulu sinopsisnya. Nyonya Zachanassian Pulang merupakan sebuah karya luar biasa Friedrich Durrenmatt dengan judul asli “ Der Besuch der alten Dame ” (Kunjungan Nyonya Tua) [1] . Naskah drama berbau feminis ini menggambarkan dunia sosial dengan tragedi dan parodi yang kompleks. Mengambil setting sebuah Kota di Eropa Tengah bernama Gullen, drama ini berkisah tentang seorang Nyonya Jutawan yang kembali berkunjung ke tanah kelahirannya setelah puluhan tahun pergi karena akan menuntut sebuah kead...

Kisah Anak Desember

Desember 2009 Aku sedang kacau. Sepertinya semua urusan hidupku tidak berjalan seperti yang kuharapkan. Orang-orang yang kusayangi mengkhianatiku. Kedua orangtuaku membuatku menjadi anak dengan cap broken home . Begitu juga dengan Dika, “pacar monyetku”. Dia membuat kami putus tanpa sebab yang jelas. Mungkin walaupun tanpa dia katakan dugaanku benar bahwa dia malu punya pacar seperti aku. Tadinya aku tidak terima dan terus memohon. Bagaimana tidak, dia seorang drummer dan sangat sophisticate . Banyak cewek yang iri padaku saat kami jadian. Tapi sehari setelahnya aku menyadari bahwa memang sudah tidak ada lagi cinta atau apalah itu namanya. Kusadari bahwa itu hanyalah perasaan sesaat yang lalu terbang pergi bersama angin begitu saja.  Semua terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Serasa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang berpihak padaku. Mungkin galau adalah kata yang tepat untukku saat itu. Aku jadi sering diam dan cuek dengan sekitarku. Saat semua cewek seusiaku s...

Malaikat Tampan yang Menari dalam Benakku

    Kyo namanya. Ia seorang lelaki malaikat dengan sepasang sayap yang bersinar keemasan. Kyo beribu kali lebih tampan dari manusia manapun, dengan rambut perak yang indah. Mata sebening kristalnya mampu menyihirku dengan kebahagiaan. Kyo adalah makhluk paling indah yang belakangan selalu menari-nari dalam benakku. Ya, ia memang seorang penari yang sempurna. Setiap gerakannya ringan bagaikan angin. Dan ia selalu menari di hadapanku. Aku mengagumi Kyo dengan seluruh jiwa ragaku. Ia memang pantas menjadi pemeran utama. Aku ingin membuatnya hidup dalam kisahku. Dengan sangat yakin aku berani berkata bahwa ia pasti akan memesona siapa saja. Aku akan membuat kisah cinta luar biasa antara Kyo dengan seorang perempuan bumi dengan akhir yang bahagia. Begitulah, setiap penikmat cerita pasti menyukai akhir yang bahagia. Ran. Ialah perempuan bumi yang kumaksud. Ialah tokoh "aku" yang akan kupertemukan dengan Kyo dalam sebuah cerita yang indah. Ia seorang pelat...

Seoul-mate!

Sial! Tinta dari pulpen yang kupegang menetes mengotori kertas catatan dan tangan kananku. Aku baru saja ingin mulai menulis dan tinta pulpenku bocor. Untuk beberapa saat aku sibuk membersihkan tinta yang menetes tadi dengan selembar kertas bekas yang kurobek dari halaman terakhir buku catatanku. Sekilas aku melirik sekeliling, untunglah tak ada yang memperhatikan kekonyolanku. Deg! Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang mengejutkan hatiku. Pikiranku langsung terhubung pada satu kenangan. Saat ketika kau merelakan seragam olahragamu untuk mengelap cat tembok basah yang tidak sengaja kusandari. Dulu momen itu tak berarti apa-apa tapi kini sakitnya luar biasa. Dan saat aku merobek-robek buku catatan lucuku karena kau menggambar aku dengan muka cemberut ketika aku sedang marah padamu tiga tahun lalu. Kini rasanya aku ingin menyatukan kembali robek-robekan itu.             Jumat siang, pukul setengah dua belas. Para lelaki muslim berja...