Aku datang kembali hari ini. Bukan untuk memberi harapan. Juga bukan untuk berlutut mencium kaki May. Aku hanya berkunjung menengok dosa dari jauh. Keadaan May tak lebih baik dari sebelumnya. Ia masih terbaring telentang di ranjang itu. Matanya terpejam. Entah memang tidur ataukah dipaksa tidur. Tangannya terikat dengan kain di kedua sisi ranjang. Bukan perawat May yang keterlaluan tapi memang itu dilakukan demi keselamatan May. Ia sudah keterlaluan dalam menyakiti diri sendiri. Ah, May. Perempuan ini sudah terlalu membenci hidup. Kuperhatikan setiap jengkal dari keempat sisi ruangan. Ada tulisan baru di sana, di antara umpatan dan makian May terhadap lelaki yang dianggapnya makhluk terkutuk. Tulisan tangan May dengan darahnya sendiri. Huruf-huruf kacau berwarna merah itu nampaknya belum kering benar. Damn! Aku mengutuki perawat yang telah lengah mengawasi May. Mereka terlalu teledor. Sebelum ini May adalah perempuan paling tegar yang pernah kutemui. Hampir seluruh masa hidupnya ia ...
Belajar dari hidup, belajar menjadi hidup.