Langsung ke konten utama

Postingan

“Kapan Nikah?” dan Bahasan Semprul Lainnya

Gue perempuan berumur hampir 24 tahun. Sekarang-sekarang ini udah nggak aneh lagi kalau denger kabar atau dapet undangan temen nikah. Nggak jarang juga gue dapet pertanyaan ngehe macem” “lo kapan nikah?” dsb dsb. Menurut gue, nikah itu urusan masing-masing orang. Lo mau nikah umur berapa, sama siapa, dengan cara gimana, di mana, mau ijab doang apa pake ngundang Judika. Itu bener-bener urusan masing-masing. Gue sampe sekarang nggak ngerti sih apa maksud orang-orang yang mikirin “kapan sih tuh anak nikah?” Kurang kerjaan? Mungkin itu alasan terbaik yang masuk logika gue. Gue nggak jarang juga ketemu orang yang impiannya menikah. Oh, come on ! Gue nggak nganggep itu salah sih. Tapi serius impian lo itu doang? Lo nggak pengen jadi penulis buku atau desainer atau pengusaha atau seniman? Menurut gue menikah itu bukan cuma soal diri sendiri. Makanya gue nggak pernah menempatkan menikah itu sebagai impian gue. Sebagian besar orang pasti akan menikah pada waktunya. Ya iyalah katanya n...

Semua Manusia itu Sama dan Berbeda

Menginjak bulan ketiga pasca lulus. Daisyflo masih jalan meski ada beberapa masalah. Gue juga nyambi nulis artikel lagi. Hidup gue lumayan menyenangkan. Meski, pertanyaan eek macem "kapan kawin?" "masih nganggur aja?" "udah ngelamar ke mana aja?" kerap kali berdengung di kuping. Minggu lalu gue pulang ke rumah. Ke Wonogiri dan ke Semarang. Mampir ke Jepara juga buat ketemu salah satu temen. Ngomongin soal temen, gue agak susah memaknai kata ini belakangan ini. Buat gue, temen itu soal ketulusan, bukan bullshit. Mungkin gue terlalu baper. Tapi kok rasanya susah banget ya buat menempatkan seseorang sebagai temen. Semakin tua gue semakin menyadari kalo kebanyakan orang yang ngaku temen itu nggak selalu tulus. Akan ada saatnya dia nggak "bersama" elo. Kenapa? Karena semua orang itu "sama". Gue bukan orang baik. Gue juga bukan orang yang nggak punya dosa. Tapi gue muak sama tingkah orang-orang di atas dramaturgi. Gini loh... kalo lo ca...

Manusia yang Menjadi Tuhan

Kamis, 22 Desember 2016 menjadi moment besar dalam hidup gue. Akhirnya anak emak ini bisa maju sidang skripsi dan dinyatakan lulus. Senang, bahagia, haru, lega. Itu yang gue rasakan seketika. Akhirnya perjuangan mengalahkan diri sendiri itu sampai ke titik ini. Tapi kemudian gue nyadar bahwa ini bukanlah akhir. Masih ada tanggungan revisi untuk bisa wisuda 4 Februari nanti. Dan gue masih tetep nggak bisa tidur nyenyak, nggak kayak yang orang-orang bilang bahwa setelah sidang lo akan merasakan tidur ternikmat sepanjang masa. Gue tau nanti gue juga akan merasakannya, tapi nggak sekarang. Nanti setelah gue udah bener-bener selesai dengan kewajiban gue sebagai mahasiswa. Kata orang, kehidupan pasca kampus adalah hutan belantara. Gue enggak mengkhawatirkan itu karena sejak tau kalau es krim itu nikmat, gue udah merasakan hidup di hutan belantara. Yang gue herankan adalah munculnya fenomena "manusia menjadi tuhan". Jauh sebelum gue sampai ke titik ini, gue udah kenyang dengan cur...

Plan B

Gue nggak tahu apakah setiap orang punya planning dalam hidupnya. Kalau dilihat dari kebanyakan temen gue, mereka cuma menjalani hidup mereka sekemananya aja. Mungkin mereka udah percaya dengan takdir atau garis hidup. Tapi gue rasa hidup kayak gitu bakal bikin susah diri sendiri. Lo harus punya rencana--yaa walaupun mungkin suatu saat rencana lo bakal jadi sekadar wacana. Ngomongin soal rencana hidup, gue ngerasa banget ini perlu ketika lagi down. Yaa seperti saat ini: deadline skripsi seminggu lagi, nggak bisa tidur nyenyak, dan nggak bisa mikir, plus masalah-masalah LDR tak berujung yang gue nggak tahu sebenarnya semua itu salah siapa. Gue sedang berada dalam masa sulit. Mungkin gue terlalu kolokan, mungkin gue terlalu egois. Yaelah masak iya orang kudu dewasa mulu. Ditambah lagi gue nggak dapet dukungan dari orang yang paling gue harapkan--iya, emang salah gue karena berharap sama manusia. But wait, gue nggak akan berharap kalau nggak dikasih harapan duluan. So, if you know wha...

Candala

Terkisahlah seorang perempuan yang hidup tapi tak hidup. Redup. Seperti nyala lampu minyak yang dasarnya hampir kering. Dia dilahirkan seorang ibu tapi dia tak memilikinya. Ya  lebih baik menyingkir ketimbang harus berbagi ibu dengan orang asing. Dia tidak punya bapak, pun dalam dokumen kenegaraannya. Tetangga-tetangga sering menjadikan dia dan keluarganya bahan bergunjing saat ngumpul di tukang sayur atau arisan RT. Dia pintar. Tapi pintarnya itu tak lantas jadi pujian. Mereka justru semakin memojokkannya karena beda dari anggota keluarga lainnya--keluarga yang bahkan dia tak pernah memilikinya. Keluarga yang tidak bisa dia peluk karena sudah tercerai-berai sejak dia bahkan belum tahu dosa itu apa. Dia pintar. Karena dia pintar, dia bisa pergi berguru ke tempat yang jauh. Tapi mereka menganggap dia egois karena pergi sendiri meninggalkan keluarganya yang sengsara. Mereka tak tau sesengsara apa dirinya selama hidup dikelilingi oleh orang-orang bermulut linggis. Dia tidak cant...

A True Love: Daisyflo Journey

Rasanya udah lama banget nggak nulis. Selalu setiap nge- blog   setahun belakangan ini pasti gue awalin dengan kalimat barusan. Iya, gue sekarang emang jarang nulis. Selain nulis anuan sih… Tapi gue nggak mungkin melupakan nulis, kok. Karena menulis adalah napas kehidupan.!. Alah paan dah! XD Sebenernya, gue akan nulis saat kangen. Kangen dengan kebebasan, kangen buat ngoceh   nyinyirin orang . Nah, saat ini gue lagi kangennnn banget sama nulis   dan masnya yang jauh di sana . Oke, kali ini gue bakal nulis tentang cerita di balik lahirnya Daisyflo. Kalo kalian belom tahu apa itu Daisyflo, brarti kalian bukan temen gue. Hahaha! Anak baik pasti udah follow   @daisyflo.id   lahhh! Ya udah gue jelasin aja deh… Jadi Daisyflo adalah   brand   yang gue bikin untuk usaha kreatif bunga flanel yang gue rintis dan jalankan bersama 2 teman baik gue, Wikan dan Naf. Yah, meskipun nggak lama lagi yang satunya bakal   go international.   Gue ikut seneng t...

Debu

Sumber gambar:  cedecode.deviantart.com Sepasang mata basah yang jatuh di atas dipan itu milik perempuan tanpa nama Dia memeluk malam berselimut temaram Menyulam imaji pada satu sisi hayati miliknya sendiri Kebebasannya adalah tidur Pagi hanyalah pertanda bahwa hidup yang mati dimulai kembali Siapa yang tahu luka menganga di balik wajah manis itu? Bahkan dia sendiri tak bisa tahu apa itu luka Dia hanya tahu matahari tak bekerja sendiri Dan jika malam kembali di hari berikutnya lagi sepasang mata itu akan tetap jatuh di atas dipan Dia berbaring di sana menginginkan mati yang abadi Mencintai itu api Mencintai itu air Mencintai itu salju Namun mencintai juga debu Note: saya tidak tahu alasan apa yang mendasari saya menulis puisi. Saya orang yang kurang pandai membuat larik yang bagus. Pada dasarnya, saya lebih suka menulis cerpen atau novel romance, drama, atau fantasi. Tulisan ini adalah hasil dari perenungan sponta...