Langsung ke konten utama

Hujan 28 Oktober

Hujan kali ini seolah mengejekku karena sedang tak bisa menikmatinya. Guyurannya yang begitu deras seolah menggodaku untuk berlari ke bawah langit, membiarkan partikel-partikel yang susul menyusul jatuh itu menerpa tubuhku. Aku takut menggigil, takut bertambah pusing. Sial! Seharusnya aku tak sakit. Seharusnya badanku baik-baik saja agar hujan ini tak terasa begitu tragis. Mimpi buruk semalam, ditambah hujan deras ini adalah komposisi yang pas untuk merapal doa, bersimpuh, sedikit menggalau, merenung. Hanya untuk meyakinkan bahwa itu sekadar mimpi absurd yang lenyap seperti asap ketika mata terbuka. Nyatanya hujan kali ini hanya memaksaku untuk berdiam. Kembali ke mimpi buruk semalam. Andai itu benar terjadi, maka aku akan nekad berdiri di bawah hujan, menantang sinar lampu mobil yang menyilaukan itu menerjang ke arah tubuhku. Aku tak sanggup, tak bisa menghadapinya. Hujan memang selalu bisa menjadi alasan untuk sebuah hal. Jangan salahkan mimpi, jangan salahkan hujan. Aku mencintaimu, Why.                                                                                                                   Halte FIB, di antara godaan hujan deras.

Komentar

  1. Keren...���� jadi kangen hujan~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks!! Terima kasih ya sudah meninggalkan jejak. 😊

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Wedding Dream

Pepohonan hampir menyembunyikanku dari keramaian. Aku sudah berlari cukup jauh. Untung saja aku adalah mantan atlet atletik di kampus dulu. Sebuah menara kini menjulang di hadapanku seolah bangunan itu baru saja muncul di sana. Sepertinya menara itu bekas mercusuar. Oh, yeah. Aku sekarang benar-benar mirip seorang Rapunzel. Memakai gaun lebar, heels , tiara cantik, dan menemukan sebuah menara. Apa aku juga harus memanjatnya?                 Saat ini aku sedang dalam pelarian. Aku kabur dari pernikahan pantaiku. Apa lagi kalau bukan karena lelaki yang menjadi pengantinku adalah bukan yang kuinginkan. Sumpah demi Tuhan pernikahan itu memang impianku. Pernihakan tepi pantai yang serba putih dan berpasir dengan bau laut yang segar. Siapa sih yang tidak menginginkannya? Tapi pada menit-menit terakhir sebelum prosesi aku memilih kabur dan menghilang dari mata hadirin. Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan...

Between Us

Aku baru saja membayar sebuah karangan bunga yang akan kukirimkan pada pujaanku lewat kurir. Sudah sejak lama aku menjadi pemuja rahasia. Ini bukan karena aku pengecut atau bagaimana, tapi ada sesuatu yang mengharuskanku demikian. Ponsel di sakuku bergetar. Dua buah personal chat masuk. Satu dari Agnes, satu lagi dari Juna. Agnes adalah gadis pertama yang kukenal di SMA. Dia juga sekaligus gadis yang pertama kali kusukai. Sedangkan Juna adalah teman sebangkuku sejak kelas 2 SMP. Sialnya dia mengaku suka pada Agnes. Mereka berdua sahabatku. Sahabat yang kini sedang menjalin cinta. Agnes: aku putus dengan Juna. :’( Juna: kami putus.             Apa-apaan ini? Setelah aku berjuang keras menyembunyikan rasa sukaku pada Agnes, mencintainya dalam diam dan membiarkan Juna menyatakan cintanya tiga bulan silam, lalu mereka putus begitu saja? Aku tidak terima. Aku masih ingat jelas bagaimana raut wajah Agnes ketika mendapat pengakua...

Gadis Teh di Kedai Kopi

Secangkir espresso terhidang di atas meja. Aromanya sampai ke hidungku dalam sekejap. Kulirik sejenak tangan kurus yang baru saja meletakkannya. Aku lalu mencuri pandang sekilas ke arah wajahnya. Belum pernah kulihat pramusaji yang satu ini. Wajah bersih yang manis. Tiba-tiba aku teringat pada tokoh utama dalam novel yang sedang kutulis.             “Orang baru?” tanyaku tanpa menyudahi aktivitas membaca yang sejak tadi kulakukan.             Ia tak segera menjawab meski kutunggu hingga beberapa jenak. Kulirik ke bawah, tepat ke sepatunya. Ia masih di sana, bergeming.             Aku tidak biasa dihiraukan. Kutarik napas dalam-dalam seraya meletakkan novel di samping cangkir espresso yang masih mengepul. Kualihkan pandangan pada si gadis pramusaji. “Kau tak dengar pertanyaanku?” lemparku sekali lagi.   ...