Daku terbangun lalu menangis meratapi kesadaran yang menelanku. Daku terlalu sombong akan cinta yang biasa saja. Terlalu lena akan dunia luar yang bisa bengis kapan saja. Daku ingin berteriak kenapa kesadaran itu menyapa di pagi-pagi buta. Kesadaran akan memilikimu yang semestinya pantas untuk sangat dijaga. Sementara selama ini daku terlalu pongah dengan kepemilikan akanmu. Tanpa peduli apa inginmu. Padahal bisa saja di luar sana seseorang telah dipilihkan untuk menggantikanku.
Daku hanya seorang manusia biasa. Yang punya rasa namun sering tak bisa memahami rasa. Yang kini mulai mempersalahkan diri ini. Yang mengaku memiliki namun sering tak bisa menjaga. Yang hanya bisa percayai namun tak bisa melihat. Please... Jangan beri daku mimpi. Beri daku keyakinan bahwa diri yang kurang ini telah sepenuhnya diterima. Agar kita dapat sama-sama menjaga. Menjaga apa yang kau dan daku sebut sebagai cinta, Why. Pagi hari di tengah sepi.
Let’s take a deep breath … Rasanya kek udah sewindu gue nggak nulis blog. Gue nggak bakalan banyak alesan sih. Karena alesannya emang cuma satu: males. Gue punya banyak waktu (secara gue fresh -jomblo) dan punya banyak cerita (curhatan pribadi). Tapi saat mau nulis barang secuil cerpen pun, gue langsung ketimpa hawa males itu sendiri. Mungkin keadaan ini disponsori oleh gaya nulis gue yang belakangan selalu berbau romance dan drama. Ya, gue akui bahwa gue kepengaruh sama keadaan hati (pas lagi bahagia- long time ago ) plus drama-drama Korea yang sukses bikin gue lupa makan, mandi, bahkan bobok. “Ah udahlah, Des, nggak usah banyak cingcong. Jujur aja kalo lo habis putus.” Tiba-tiba sebuah suara gaib membuat gue melirik ke sudut-sudut kamar. Iya, gue emang baru putus lima-enam bulan lalu. Iya, sama pacar-lima-tahun yang selalu gue banggain itu. Tapi sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur (tinggal tambahin ayam suwir, bawang goreng sama kuah opor) buat sarapan. Puj...
Komentar
Posting Komentar