Langsung ke konten utama

“Kapan Nikah?” dan Bahasan Semprul Lainnya

Gue perempuan berumur hampir 24 tahun. Sekarang-sekarang ini udah nggak aneh lagi kalau denger kabar atau dapet undangan temen nikah. Nggak jarang juga gue dapet pertanyaan ngehe macem” “lo kapan nikah?” dsb dsb.

Menurut gue, nikah itu urusan masing-masing orang. Lo mau nikah umur berapa, sama siapa, dengan cara gimana, di mana, mau ijab doang apa pake ngundang Judika. Itu bener-bener urusan masing-masing. Gue sampe sekarang nggak ngerti sih apa maksud orang-orang yang mikirin “kapan sih tuh anak nikah?” Kurang kerjaan? Mungkin itu alasan terbaik yang masuk logika gue.

Gue nggak jarang juga ketemu orang yang impiannya menikah. Oh, come on! Gue nggak nganggep itu salah sih. Tapi serius impian lo itu doang? Lo nggak pengen jadi penulis buku atau desainer atau pengusaha atau seniman? Menurut gue menikah itu bukan cuma soal diri sendiri. Makanya gue nggak pernah menempatkan menikah itu sebagai impian gue.

Sebagian besar orang pasti akan menikah pada waktunya. Ya iyalah katanya nikah itu enak dan bisa enak-enak. Katanyaaa. Kalo gue, jujur, kalo bisa milih, gue akan milih nikah di waktu yang tepat. Kapan waktu yang tepat itu? Beberapa orang yang pernah gue ajak ngobrol, ditambah dengan opini gue pribadi, bilang kalau kita bakal menemukan waktu yang tepat itu, saat itu akan datang dengan caranya sendiri. Dan gue percaya itu sih.

Nah, pertanyaannya, emang kita udah selesai sama diri kita sendiri? Karena nikah itu menurut gue, kita menyerahkan separuh hidup kita buat orang lain, mempercayakan separuh diri kita buat keluarga baru yang akan kita bangun. Yaiyalah. Kalo udah nikah, lo nggak mungkin bisa ucul ke sana-sini tanpa permisi.

Gue terkadang salut sama orang-orang yang berani nikah meski belom punya apa-apa, atau bahkan belom kenal dalem sama calon suami/istrinya. Gilak! Ngebayanginnya aja jidat gue udah berkerut-kerut. Dalem pikiran gue: gimana kalo pasangan lo ternyata psikopat? Gimana kalo pasangan lo ternyata punya kebiasaan yang nggak bisa lo terima? Akhirnya apa? Karena lo nggak tahan lo nangis-nangis minta cere dan minta dibalikin ke rumah mamak lo. XD

Gue tipe orang yang susah kenal deket sama orang baru. Gue harus mempelajari dulu secara keseluruhan dari orang itu. Itu semua karena gue punya banyak pengalaman yang nggak enak di jaman gue masih open-open aja sama orang baru. Semua orang. Sekarang gue nggak mau lagi sakit-sakit karena hal macem itu. Makanya itu, gue butuh waktu yang sangat lamaaaaa buat mengenal pasangan gue. Lamanya sampe berapa tahun? Gue sendiri kagak tau. XD

So, balik lagi, gue salut sama orang-orang yang seperti itu. Terlebih yang berhasil ngebangun rumah tangga sampe bikin orang pengen. Temen gue pun banyak yang udah nikah dan hidup bahagia. Banyak juga yang bentar lagi udah mau nikah dan sangat bahagia. Dan gue pun ikut seneng. Lo nggak salah kok buat nikah lebih dulu dibandingin dengan temen-temen lo atau bahkan kakak tingkat lo. Jodoh kan urusan lo sama Tuhan. But, gue rasa lo nggak perlu ngajakin orang-orang buat nikah. Ayo nikah! Nikah enak lho! Udah nggak usah lama-lama, mau sampe kapan kalo nunggu mapan? Lo masih jomblo? Kasihan nggak ada yang masakin. Lah nyari istri apa nyari koki?

Gue sendiri sampe saat ini ngerasa masih sangat jauh dari kata selesai dengan diri sendiri. Kadang gue aja masih nggak paham kenapa sih gue melakukan ini, kenapa sih tadi gue ngomong gini sama orang, dll, dsb. Gue juga masih punya mamak dan adek-adek yang butuh gue sejahterakan. Saat ini, bukan waktunya gue buat egois. Nah, bukan cuma gue aja lho yang berada dalam keadaan kayak gini. Temen lo, sahabat lo, tetangga lo, sodara lo, rekan kerja lo, banyak. Dengan lo nggak nanya “kapan nikah?” pun mereka udah punya banyak pertanyaan untuk diri mereka sendiri. Kalo gue sih, karena gue tipe orang yang cuek dengan masalah yang nggak penting, gue selalu menanggapi pertanyaan semprul itu dengan jawab sekenanya. XD

Tapi coba lo perhatiin mereka-mereka yang lo tanya itu. Mereka nggak semua kayak gue yang suka ngetawain hidupnya sendiri. Nggak semua orang itu sama. Nggak semua orang punya pemikiran seperti lo. Satu hal yang mau gue tegaskan di sini adalah, jangan ngajakin orang buat buru-buru nikah. Kecuali lo mau tanggung jawab atas berhasil/tidaknya kehidupan pernikahannya mereka. Yailah...

Gue tau bakal banyak orang yang berseberangan dengan pemikiran gue ini. Dan pasti mereka-mereka ini bakal lebih ngejudge gue  ini-itu setelah ngebaca tulisan semprul ini. Gue nggak masalah kok. Asal kau simpan saja semua benci itu dalam hatimu. XD

Hidup itu bukan cuma soal nikah. Emang kalo udah nikah urusan lo di dunia ini kelar tinggal enak-enak doang? Tanya noh sama bokap-nyokap lo gimana susahnya gedein lo, gimana susahnya bertahan di tengah badai yang menerpa. Alah lay...

Ohiya, catatan terpenting buat diri gue sendiri sih, lo jangan nikah kalo lo masih bego. Jangan nikah kalo lo masih belom merdeka di depan pasangan lo. Jangan nikah kalo pasangan lo belom paham bedanya antara “kodrat” dan “tugas”. Dan jangan nikah kalo yang lo tau cuma nikah itu enak. Lo bukan rakyat Kinderjoy.

Saran gue sih, sebelom lo ngebet pengen nikah, pastiin dulu lo udah punya pengetahuan tentang rumah tangga, tentang parenting, dll dsb. Yaiyalah, kalo lo nikah pasti ada kemungkinan punya anak. Emang entar kalo anak lo lahir ada buku panduannya? Tiati juga kalo nikah cuma pengen melestarikan keturunan. Hoi, penduduk negeri ini udah kelewat banyak. Banyak noh anak-anak yang nggak punya bapak-emak. Sekian. Jangan lupa ayo dukung program KB pemerintah!

Depok, 24 September 2017
22.29

PS. Ini blog pribadi gue. Jadi suka-suka gue.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Wedding Dream

Pepohonan hampir menyembunyikanku dari keramaian. Aku sudah berlari cukup jauh. Untung saja aku adalah mantan atlet atletik di kampus dulu. Sebuah menara kini menjulang di hadapanku seolah bangunan itu baru saja muncul di sana. Sepertinya menara itu bekas mercusuar. Oh, yeah. Aku sekarang benar-benar mirip seorang Rapunzel. Memakai gaun lebar, heels , tiara cantik, dan menemukan sebuah menara. Apa aku juga harus memanjatnya?                 Saat ini aku sedang dalam pelarian. Aku kabur dari pernikahan pantaiku. Apa lagi kalau bukan karena lelaki yang menjadi pengantinku adalah bukan yang kuinginkan. Sumpah demi Tuhan pernikahan itu memang impianku. Pernihakan tepi pantai yang serba putih dan berpasir dengan bau laut yang segar. Siapa sih yang tidak menginginkannya? Tapi pada menit-menit terakhir sebelum prosesi aku memilih kabur dan menghilang dari mata hadirin. Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan...

Between Us

Aku baru saja membayar sebuah karangan bunga yang akan kukirimkan pada pujaanku lewat kurir. Sudah sejak lama aku menjadi pemuja rahasia. Ini bukan karena aku pengecut atau bagaimana, tapi ada sesuatu yang mengharuskanku demikian. Ponsel di sakuku bergetar. Dua buah personal chat masuk. Satu dari Agnes, satu lagi dari Juna. Agnes adalah gadis pertama yang kukenal di SMA. Dia juga sekaligus gadis yang pertama kali kusukai. Sedangkan Juna adalah teman sebangkuku sejak kelas 2 SMP. Sialnya dia mengaku suka pada Agnes. Mereka berdua sahabatku. Sahabat yang kini sedang menjalin cinta. Agnes: aku putus dengan Juna. :’( Juna: kami putus.             Apa-apaan ini? Setelah aku berjuang keras menyembunyikan rasa sukaku pada Agnes, mencintainya dalam diam dan membiarkan Juna menyatakan cintanya tiga bulan silam, lalu mereka putus begitu saja? Aku tidak terima. Aku masih ingat jelas bagaimana raut wajah Agnes ketika mendapat pengakua...

Kejutan

     “ Semangat ya Chef Hara! Omong-omong pesanan nomor sembilan itu jangan sampai salah ya! Baca baik-baik tulisannya. Soalnya makanan itu buat tamu penting. Dia Ibu Merry, salah satu investor restoran ini,” jelas Cecile panjang-lebar. Mungkin ia takut aku membuat kesalahan sebagai chef baru.     “Siap!” sahutku sambil menyiapkan peralatan.     Kutengok lagi memo yang tadi ditempel oleh Cecile di dinding di hadapanku. Dua porsi gurame asam manis. Aku langsung teringat pada Mas Rendy. Itu adalah masakan favoritnya. Ia bisa menghabiskan dua piring nasi sekali makan kalau ada lauk itu di rumah. Hmmm. Nanti sampai di rumah aku akan memasakkan menu yang sama untuk berbuka. Lagi pula ini hari yang istimewa.     Oke. Dua porsi gurame asam manis. Aku mengambil dua ekor ikan gurame yang sudah dilumuri campuran bumbu bawang putih, garam, dan jeruk nipis. Kulumuri ikan itu dengan tepung maizena. Aku panask...