Langsung ke konten utama

Selamat Datang Dua Satu!

Telepon dari lelakiku membawa ucapan manis selamat ulang tahun. Aku terdiam sejenak. Oh... Rupanya dua satu benar-benar menghampiriku.

Tidak ada yang bisa menebak kapan seseorang menjadi dewasa. Aku tahu, aku belum sepenuhnya dewasa. Bahkan masih jauh dari kata itu. Karena apa? Karena aku masih sering menyangka diriku sudah dewasa.

Justru di sisi lain aku belum siap dewasa. Aku belum siap bertanggung jawab pada diriku sendiri. Karena apa? Karena dalam dunia dewasa segalanya menjadi teramat serius. Aku masih ingin melakukan berbagai hal, bertindak semaunya, melakukan kesalahan-kesalahan yang wajar.

Dalam benakku, dunia dewasa adalah dunia yang paling tidak punya toleransi. Kau salah, dibenci. Kau gagal, ditertawai. Duniaku saat ini? Aku salah, diperbaiki. Aku gagal, diajak mencoba kembali. Itulah mengapa aku enggan meninggalkan. Tapi yah, bagaimana lagi. Hidup harus berproses.

Aku tahu aku harus menjadi dewasa. Tapi dalam kemengertianku ini aku menolak berpura-pura dewasa. Aku ingin tanpa sadar kedewasaan itu sudah melekat padaku. Apa yang harus kulakukan? Resolusi.

Bismillah... Di dua satu ini aku ingin doa-doa dari orang-orang terkasih yang ditiupkan padaku lewat ketulusan dapat menjadi nyata. Aku tahu bukan bagianku untuk membalasnya. Ada peran Tuhan, biarlah terbalas dengan lebih indah. Aku ingin pendidikanku lancar, jodohku semakin dipertegaskan, bukuku diterbitkan dan menjadi best seller. Dan aku ingin diberikan kekuatan untuk menjalani proses ke sana.

Janji pada diri. Aku akan berhenti bermimpi jika ia sudah terwujud. Aku akan berhenti berusaha jika nyawa sudah tercerabut dari raga. Aku akan menjadi lebih kuat dan bahagia bersama orang-orang di sekitarku. Aku akan menjadi orang paling berguna, paling banyak memberi, paling susah dilupakan.

Mungkin satu saat nanti Google akan turut merayakan ulang tahunku yang kesekian ratus. Mungkin ibuku akan menjadi ibu paling bahagia di dunia dan di surga. Mungkin namaku menjadi salah satu nama tempat yang paling ingin dikunjungi orang-orang yang mengejar impian. Impian. Impian. Impian.

Kata orang bahagia itu sederhana. Ya. Memang. Ada jutaan cara untuk bisa merasakan bahagia. Dan selama rasa itu masih bisa kucapai, aku tidak akan menyerah pada tantangan. Akan kujadikan ia kawan. Akan kutakhlukkan.

Depok, 17 Desember 2014 19.34.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Between Us

Aku baru saja membayar sebuah karangan bunga yang akan kukirimkan pada pujaanku lewat kurir. Sudah sejak lama aku menjadi pemuja rahasia. Ini bukan karena aku pengecut atau bagaimana, tapi ada sesuatu yang mengharuskanku demikian. Ponsel di sakuku bergetar. Dua buah personal chat masuk. Satu dari Agnes, satu lagi dari Juna. Agnes adalah gadis pertama yang kukenal di SMA. Dia juga sekaligus gadis yang pertama kali kusukai. Sedangkan Juna adalah teman sebangkuku sejak kelas 2 SMP. Sialnya dia mengaku suka pada Agnes. Mereka berdua sahabatku. Sahabat yang kini sedang menjalin cinta. Agnes: aku putus dengan Juna. :’( Juna: kami putus.             Apa-apaan ini? Setelah aku berjuang keras menyembunyikan rasa sukaku pada Agnes, mencintainya dalam diam dan membiarkan Juna menyatakan cintanya tiga bulan silam, lalu mereka putus begitu saja? Aku tidak terima. Aku masih ingat jelas bagaimana raut wajah Agnes ketika mendapat pengakua...

My Wedding Dream

Pepohonan hampir menyembunyikanku dari keramaian. Aku sudah berlari cukup jauh. Untung saja aku adalah mantan atlet atletik di kampus dulu. Sebuah menara kini menjulang di hadapanku seolah bangunan itu baru saja muncul di sana. Sepertinya menara itu bekas mercusuar. Oh, yeah. Aku sekarang benar-benar mirip seorang Rapunzel. Memakai gaun lebar, heels , tiara cantik, dan menemukan sebuah menara. Apa aku juga harus memanjatnya?                 Saat ini aku sedang dalam pelarian. Aku kabur dari pernikahan pantaiku. Apa lagi kalau bukan karena lelaki yang menjadi pengantinku adalah bukan yang kuinginkan. Sumpah demi Tuhan pernikahan itu memang impianku. Pernihakan tepi pantai yang serba putih dan berpasir dengan bau laut yang segar. Siapa sih yang tidak menginginkannya? Tapi pada menit-menit terakhir sebelum prosesi aku memilih kabur dan menghilang dari mata hadirin. Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan...

Gadis Teh di Kedai Kopi

Secangkir espresso terhidang di atas meja. Aromanya sampai ke hidungku dalam sekejap. Kulirik sejenak tangan kurus yang baru saja meletakkannya. Aku lalu mencuri pandang sekilas ke arah wajahnya. Belum pernah kulihat pramusaji yang satu ini. Wajah bersih yang manis. Tiba-tiba aku teringat pada tokoh utama dalam novel yang sedang kutulis.             “Orang baru?” tanyaku tanpa menyudahi aktivitas membaca yang sejak tadi kulakukan.             Ia tak segera menjawab meski kutunggu hingga beberapa jenak. Kulirik ke bawah, tepat ke sepatunya. Ia masih di sana, bergeming.             Aku tidak biasa dihiraukan. Kutarik napas dalam-dalam seraya meletakkan novel di samping cangkir espresso yang masih mengepul. Kualihkan pandangan pada si gadis pramusaji. “Kau tak dengar pertanyaanku?” lemparku sekali lagi.   ...